Leadership Bukan Soal Jabatan, Tetapi Pengaruh

Setiap orang dapat menjadi pemimpin, bahkan tanpa memiliki jabatan formal. Leadership bukan tentang posisi yang kita duduki, melainkan tentang pengaruh yang kita berikan kepada orang lain.

Ilham Febryan • 3 Juli 2026 • 6 menit baca

Setiap kali saya berbicara di depan peserta IYEN, hampir selalu ada satu pertanyaan yang muncul, “Kak, bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin?” Menariknya, sebagian besar dari mereka selalu mengaitkan kepemimpinan dengan jabatan. Mereka berpikir bahwa seseorang baru bisa disebut pemimpin ketika menjadi ketua organisasi, CEO sebuah perusahaan, atau memimpin sebuah tim besar.

Saya hanya tersenyum, karena dulu saya juga pernah berpikir seperti itu.

Namun, semakin lama saya membangun IYEN, saya justru menyadari bahwa kepemimpinan tidak pernah dimulai dari sebuah jabatan. Kepemimpinan dimulai dari keberanian mengambil tanggung jawab, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang meminta kita melakukannya.

Ketika pertama kali membangun Indonesian Youth Excursion Network (IYEN), saya tidak memiliki kantor, tidak memiliki tim besar, bahkan nama IYEN pun belum dikenal siapa pun. Program pertama kami tidak langsung diikuti ratusan peserta. Semua dimulai dari langkah-langkah kecil, penuh keraguan, dan tentu saja banyak tantangan.

Yang membuat orang tetap bertahan bukanlah karena saya memiliki jabatan sebagai founder. Justru saat itu, jabatan tersebut tidak memiliki arti apa-apa bagi orang lain. Mereka bertahan karena percaya pada visi yang sedang kami bangun bersama.

Di situlah saya belajar satu pelajaran yang sangat berharga. Jabatan mungkin bisa membuat orang mengenal siapa kita, tetapi kepercayaanlah yang membuat mereka mau berjalan bersama kita.

Saya sering menggunakan sebuah analogi sederhana. Bayangkan sebuah api unggun di malam hari. Orang-orang tidak berkumpul karena kayunya, melainkan karena mereka merasakan kehangatan yang dihasilkan api tersebut. Begitu pula dengan seorang pemimpin. Orang tidak mengikuti karena gelar yang tertulis di kartu nama, tetapi karena mereka merasakan dampak, ketulusan, dan arah yang diberikan oleh pemimpin tersebut.

Pengaruh selalu lebih kuat daripada posisi.

Pengalaman itu semakin terasa ketika menjalankan berbagai program IYEN. Saya sering melihat peserta yang awalnya sangat pendiam. Mereka bukan ketua organisasi, bukan mahasiswa yang paling terkenal, bahkan sebagian merasa dirinya biasa saja. Namun, selama program berlangsung, mereka justru menjadi sosok yang paling sering membantu teman-temannya, mengingatkan jadwal, menenangkan ketika ada masalah, dan memastikan semua orang merasa nyaman.

Menariknya, tanpa disadari peserta lain mulai mengikuti mereka. Tidak ada yang mengangkat mereka menjadi ketua kelompok. Tidak ada surat keputusan atau sertifikat kepemimpinan. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu pengaruh.

Dari situ saya semakin yakin bahwa leadership bukanlah tentang siapa yang berdiri paling depan. Leadership adalah tentang siapa yang mampu membuat orang lain bertumbuh bersama.

Saya juga menyadari bahwa menjadi pemimpin sangat mirip seperti menanam pohon. Ketika kita menanam bibit hari ini, hasilnya tidak akan langsung terlihat besok. Kita harus menyiramnya setiap hari, menjaga akarnya, dan bersabar menghadapi musim. Begitu pula dengan kepemimpinan. Kepercayaan tidak dibangun dalam satu pidato atau satu pencapaian. Ia tumbuh melalui konsistensi, kejujuran, dan tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

Sayangnya, banyak anak muda hari ini lebih sibuk mengejar posisi daripada membangun kapasitas. Mereka ingin cepat menjadi ketua, ingin cepat menjadi CEO, ingin cepat dikenal banyak orang. Padahal, tanpa karakter yang kuat, jabatan hanyalah sebuah kursi yang suatu saat bisa berpindah kepada orang lain.

Saya justru percaya bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan anak muda adalah fokus menjadi pribadi yang layak dipercaya. Belajarlah untuk menepati janji, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, menghargai waktu, berani mengakui kesalahan, dan terus belajar. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itu mungkin terlihat kecil, tetapi dari sanalah reputasi dibangun.

Selama membangun IYEN, saya belajar bahwa kesempatan besar sering kali datang bukan kepada orang yang paling pintar, tetapi kepada orang yang paling dapat dipercaya. Banyak kolaborasi, kemitraan, bahkan peluang internasional yang kami dapatkan bukan karena kami yang paling besar, melainkan karena kami menjaga komitmen dan berusaha memberikan hasil terbaik dalam setiap program yang dijalankan.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang mengejar jabatan. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia mengambil tanggung jawab. Sebab jabatan hanyalah simbol, sedangkan pengaruh adalah warisan yang akan terus hidup bahkan setelah posisi itu tidak lagi kita miliki.

Jadi, jika hari ini kamu merasa belum memiliki jabatan apa pun, jangan berkecil hati. Mulailah memimpin dari hal yang paling dekat, yaitu dirimu sendiri. Jadilah pribadi yang membawa solusi, bukan hanya kritik. Jadilah orang yang memberi semangat, bukan sekadar komentar. Jadilah seseorang yang membuat orang lain berkembang ketika berada di sekitarmu.

Karena pada akhirnya, orang mungkin akan lupa apa jabatan yang pernah kamu miliki. Namun mereka akan selalu mengingat bagaimana kamu membuat mereka merasa, bertumbuh, dan percaya bahwa mereka juga mampu menjadi lebih baik. Itulah makna leadership yang sesungguhnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top