Pelajaran tentang budaya, perspektif global, kolaborasi internasional, dan bagaimana pengalaman tersebut mengubah cara pandang saya.
Ilham Febryan • 3 Juli 2026 • 6 menit baca
Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima setelah mengikuti atau menyelenggarakan program internasional adalah, “Kak, sebenarnya apa sih manfaat bertemu dengan pemuda dari berbagai negara? Apakah hanya untuk jalan-jalan dan menambah teman?”
Saya selalu menjawab bahwa perjalanan internasional mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi pelajaran yang dibawa pulang bisa mengubah cara kita memandang dunia seumur hidup.
Itulah yang saya rasakan setiap kali bertemu anak muda dari berbagai negara melalui program-program yang diselenggarakan IYEN. Sebelum mengikuti forum internasional, saya berpikir bahwa setiap negara memiliki cara yang sama dalam menyelesaikan masalah. Namun, semakin banyak saya berdiskusi dengan peserta dari berbagai latar belakang, semakin saya menyadari bahwa satu masalah bisa memiliki puluhan cara penyelesaian yang berbeda.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa wawasan seseorang sering kali dibatasi oleh lingkungan tempat ia tumbuh. Bukan karena ia tidak cerdas, tetapi karena ia belum pernah melihat sudut pandang yang berbeda.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang peserta dari luar negeri mengenai isu pendidikan. Saya menjelaskan bagaimana tantangan yang dihadapi anak muda Indonesia, sementara ia menceritakan kondisi di negaranya. Menariknya, kami sama-sama menghadapi persoalan yang mirip, tetapi pendekatan yang digunakan sangat berbeda. Dari percakapan sederhana itu saya belajar bahwa tidak ada satu solusi yang selalu benar. Semakin banyak perspektif yang kita dengarkan, semakin bijaksana cara kita mengambil keputusan.
Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada sebuah analogi tentang jendela. Bayangkan kamu berada di dalam sebuah ruangan yang hanya memiliki satu jendela. Apa yang kamu lihat tentu hanya satu pemandangan. Namun, ketika ruangan itu memiliki sepuluh jendela, kamu akan melihat gunung, laut, jalan raya, taman, hingga langit dari sudut yang berbeda. Dunia tidak berubah, tetapi cara kita melihatnya berubah. Begitu pula ketika kita bertemu orang-orang dari berbagai negara. Mereka menjadi jendela baru yang memperluas cara kita memahami dunia.
Pelajaran berikutnya yang paling membekas adalah bahwa mimpi tidak mengenal batas negara. Saya bertemu mahasiswa, pengusaha muda, aktivis, peneliti, hingga inovator yang usianya tidak jauh berbeda dengan kita. Mereka memiliki tantangan yang berbeda-beda, tetapi satu kesamaan yang saya lihat adalah keberanian untuk mencoba.
Saat berbicara dengan mereka, saya tidak pernah merasa sedang berbicara dengan orang yang lebih hebat. Saya justru merasa sedang berbicara dengan orang-orang yang memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Dari situ saya menyadari bahwa yang sering membatasi anak muda Indonesia bukanlah kemampuan, melainkan rasa takut untuk memulai.
Hal lain yang sangat saya syukuri adalah kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Banyak peserta internasional yang mengenal Indonesia hanya dari Bali. Ketika saya mulai bercerita tentang keberagaman budaya, potensi generasi muda, kekayaan alam, hingga semangat gotong royong, saya melihat antusiasme mereka. Saya sadar bahwa setiap anak muda Indonesia yang mengikuti forum internasional sebenarnya juga membawa nama bangsa.
Karena itulah saya selalu mengingatkan peserta IYEN bahwa ketika kita berada di luar negeri, kita bukan hanya mewakili diri sendiri. Cara kita berbicara, menghargai perbedaan, bekerja sama, dan bersikap akan membentuk kesan orang lain terhadap Indonesia. Menjadi duta bangsa tidak selalu harus memiliki gelar resmi. Terkadang, cukup dengan menunjukkan karakter yang baik.
Saya juga belajar bahwa jaringan internasional bukan sekadar mengumpulkan kartu nama atau saling mengikuti media sosial. Networking yang sesungguhnya adalah membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan. Beberapa kolaborasi yang pernah saya jalankan berawal dari percakapan sederhana saat makan siang, berdiskusi setelah sesi presentasi, atau saling bertukar ide di sela-sela kegiatan. Dari sana saya memahami bahwa peluang besar sering lahir dari hubungan yang dibangun secara tulus.
Ada satu hal yang paling mengubah cara saya berpikir. Sebelum banyak mengikuti kegiatan internasional, saya sering bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari program ini?” Namun, semakin banyak pengalaman yang saya miliki, pertanyaannya berubah menjadi, “Apa yang bisa saya kontribusikan melalui program ini?”
Perubahan cara berpikir itu ternyata membawa dampak yang sangat besar. Ketika kita datang hanya untuk menerima, pengalaman yang kita dapatkan akan berhenti pada diri sendiri. Tetapi ketika kita datang untuk berbagi, membantu, dan berkolaborasi, manfaatnya akan terus berkembang bahkan setelah program selesai.
Membangun IYEN juga memperkuat keyakinan saya bahwa kesempatan internasional bukan hanya milik segelintir orang. Saya telah melihat begitu banyak peserta yang awalnya tidak percaya diri berbicara dalam bahasa Inggris, takut bertemu orang asing, atau merasa berasal dari kota kecil. Namun, beberapa hari kemudian mereka sudah berani berdiskusi, mempresentasikan ide, bahkan menjalin persahabatan dengan peserta dari berbagai negara.
Melihat perubahan itu selalu mengingatkan saya bahwa potensi anak muda Indonesia sebenarnya sangat besar. Yang sering mereka butuhkan hanyalah kesempatan pertama untuk membuktikan bahwa mereka mampu.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa manfaat terbesar dari bertemu pemuda dari berbagai negara bukanlah stempel di paspor atau foto di tempat wisata. Manfaat terbesar adalah berubahnya cara kita berpikir. Kita belajar lebih terbuka, lebih rendah hati, lebih menghargai perbedaan, dan lebih percaya bahwa mimpi kita tidak lagi dibatasi oleh batas geografis.
Karena dunia yang semakin terhubung membutuhkan generasi muda yang tidak hanya bangga dengan identitasnya sebagai orang Indonesia, tetapi juga mampu bekerja sama dengan siapa pun, dari mana pun, untuk menciptakan dampak yang lebih besar.
Perjalanan ke luar negeri mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun, jika kita datang dengan pikiran yang terbuka, perjalanan itu bisa mengubah cara kita melihat dunia dan, yang lebih penting, mengubah cara kita melihat potensi diri sendiri.