5 Kebiasaan yang Mengubah Hidup Saya Sebelum Usia 25 Tahun

Kebiasaan sederhana yang membantu saya membangun disiplin, meningkatkan produktivitas, dan menemukan arah hidup yang lebih jelas.

Ilham Febryan • 3 Juli 2026 • 6 menit baca

Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya terima dari peserta IYEN maupun mahasiswa ketika selesai mengisi seminar. Mereka biasanya bertanya, “Kak, apa rahasia bisa menyelesaikan S2 di usia muda, membangun IYEN, menulis buku, dan tetap menjalankan berbagai aktivitas?”

Setiap kali mendengar pertanyaan itu, saya selalu tersenyum. Sebab, tidak ada rahasia yang benar-benar luar biasa. Tidak ada jalan pintas. Yang ada hanyalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam waktu yang lama.

Saya percaya bahwa hidup seseorang lebih banyak dibentuk oleh kebiasaannya daripada momen-momen besarnya. Orang sering melihat hasil akhirnya, tetapi jarang melihat proses yang dilakukan setiap hari. Padahal, kesuksesan bukan dibangun dalam satu malam. Ia lahir dari keputusan-keputusan sederhana yang terus diulang.

Kalau saya diminta memilih lima kebiasaan yang paling mengubah hidup saya sebelum usia 25 tahun, inilah jawabannya.

1. Saya Memulai Sebelum Merasa Siap

Kalimat ini bahkan menjadi judul buku yang saya tulis, “Mulai Aja Dulu.”

Mengapa? Karena saya menyadari bahwa banyak mimpi gagal diwujudkan bukan karena orang tidak mampu, tetapi karena mereka terus menunggu waktu yang sempurna. Mereka ingin semua rencana matang, semua kemampuan lengkap, dan semua risiko hilang. Padahal, waktu yang benar-benar sempurna hampir tidak pernah datang.

Ketika membangun IYEN, saya juga tidak memiliki semua jawaban. Saya belajar sambil berjalan, memperbaiki kesalahan, dan terus berkembang di setiap program yang kami jalankan. Jika saat itu saya memilih menunggu sampai semuanya sempurna, mungkin IYEN tidak akan pernah berdiri.

Saya selalu mengibaratkan keberanian seperti menyalakan mesin mobil. Kita tidak akan sampai ke tujuan hanya dengan memikirkan rute. Kita harus menyalakan mesin dan mulai bergerak. Arah bisa diperbaiki di perjalanan, tetapi mobil yang tidak pernah berjalan tidak akan pernah sampai ke mana pun.

2. Saya Tidak Pernah Berhenti Belajar

Banyak orang mengira belajar selesai ketika lulus kuliah. Justru bagi saya, setelah lulus, proses belajar yang sebenarnya baru dimulai.

Saya membaca buku, mengikuti pelatihan, mendengarkan podcast, berdiskusi dengan mentor, dan belajar dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Bahkan banyak pelajaran terbesar saya justru datang dari kegagalan menjalankan program, negosiasi yang ditolak, atau keputusan yang ternyata kurang tepat.

Saya percaya bahwa orang yang berhenti belajar akan sulit bertahan di dunia yang terus berubah. Gelar bisa membuka pintu pertama, tetapi kemampuan untuk terus belajar akan membuat kita tetap relevan.

3. Saya Memilih Lingkungan yang Membuat Saya Bertumbuh

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering bersama kita. Semakin bertambah usia, saya semakin percaya dengan kalimat itu.

Membangun IYEN mempertemukan saya dengan banyak pemuda inspiratif dari berbagai daerah. Setiap program membuat saya belajar cara berpikir baru, mendengar kisah perjuangan yang berbeda, dan melihat bahwa setiap orang memiliki sesuatu yang bisa dipelajari.

Lingkungan yang baik bukan hanya tempat kita merasa nyaman, tetapi tempat yang membuat kita tertantang untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

4. Saya Lebih Fokus Membangun Reputasi daripada Popularitas

Di era media sosial, sangat mudah mengejar angka. Jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau jumlah likes sering dijadikan ukuran keberhasilan.

Namun, saya belajar bahwa popularitas bisa datang dengan cepat dan pergi dengan cepat pula. Sebaliknya, reputasi membutuhkan waktu untuk dibangun, tetapi nilainya jauh lebih besar.

Banyak kesempatan yang datang kepada saya bukan karena memiliki pengikut terbanyak, melainkan karena orang percaya bahwa saya akan menjalankan komitmen dengan baik. Kepercayaan adalah aset yang tidak bisa dibeli.

Karena itu, saya selalu berusaha menjaga kualitas setiap program IYEN, memenuhi janji kepada peserta, dan memberikan pengalaman terbaik. Reputasi dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

5. Saya Selalu Meluangkan Waktu untuk Refleksi

Kesibukan sering membuat kita terus berlari tanpa sempat bertanya apakah kita masih berada di jalur yang benar.

Karena itu, saya membiasakan diri untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi perjalanan. Apa yang sudah berjalan baik? Apa yang perlu diperbaiki? Kebiasaan sederhana ini membantu saya mengambil keputusan dengan lebih tenang dan tidak mudah terbawa oleh kesibukan.

Saya percaya bahwa orang yang terus bergerak tanpa refleksi ibarat seorang pelaut yang mendayung sekuat tenaga tanpa pernah melihat kompas. Ia mungkin bergerak cepat, tetapi belum tentu menuju tujuan yang benar.

Lima kebiasaan ini mungkin terdengar sederhana. Tidak ada yang terlihat spektakuler. Namun, justru kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah yang perlahan mengubah cara saya berpikir, bekerja, dan menjalani hidup.

Hari ini, ketika melihat perjalanan yang telah dilalui—menyelesaikan pendidikan, membangun IYEN, menulis buku, dan bertemu ribuan anak muda dari berbagai daerah—saya semakin yakin bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari keputusan yang besar. Perubahan sering kali dimulai dari satu kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten setiap hari.

Kalau ada satu pesan yang ingin saya titipkan kepada kamu, pesannya sederhana. Jangan terlalu sibuk mencari rahasia sukses. Bangunlah kebiasaan yang baik, lalu biarkan waktu bekerja untukmu. Karena pada akhirnya, masa depan bukan ditentukan oleh apa yang sesekali kita lakukan, tetapi oleh apa yang kita pilih untuk dilakukan setiap hari.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top