Strategi praktis untuk mengatur prioritas, menjaga fokus, dan tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Ilham Febryan • 3 Juli 2026 • 5 menit baca
Beberapa waktu lalu, setelah salah satu sesi program IYEN selesai, seorang peserta menghampiri saya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tetap tersenyum. Ia berkata, “Kak, saya ingin produktif seperti Kak Ilham. Saya ingin aktif di organisasi, kuliah tetap bagus, membangun bisnis, ikut program internasional, tetapi akhir-akhir ini rasanya capek terus. To-do list semakin panjang, tidur berantakan, dan saya merasa tidak pernah benar-benar selesai mengerjakan apa pun.” Pertanyaan itu membuat saya terdiam sejenak karena mengingatkan saya pada perjalanan yang pernah saya alami. Saya pernah berada di posisi yang sama, merasa bahwa semakin sibuk, berarti semakin dekat dengan kesuksesan.
Ketika mulai membangun IYEN, hampir setiap hari saya menghabiskan waktu dari pagi hingga malam untuk mengurus berbagai hal. Saya membuat proposal kerja sama, membalas ratusan pesan peserta, menyusun konsep program, menghubungi mitra, membuat konten media sosial, sekaligus menyelesaikan studi. Kalender saya penuh, notifikasi tidak pernah berhenti berbunyi, dan hampir tidak ada waktu luang. Saat itu saya menganggap semua kesibukan tersebut sebagai tanda bahwa saya sedang berkembang. Namun, setelah beberapa waktu, saya justru merasa mudah lelah, sulit fokus, dan kehilangan semangat untuk menikmati apa yang sedang saya bangun.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa sibuk tidak selalu berarti produktif. Banyak orang bergerak sepanjang hari, tetapi sedikit sekali yang benar-benar bergerak menuju tujuan yang ingin dicapai. Produktivitas bukan tentang seberapa panjang daftar pekerjaan yang berhasil dicentang, melainkan tentang seberapa besar dampak dari pekerjaan yang kita lakukan. Saya mulai menyadari bahwa ada pekerjaan yang hanya membuat saya terlihat sibuk, dan ada pekerjaan yang benar-benar membawa perubahan bagi organisasi maupun diri saya sendiri.
Saya sering mengibaratkan waktu seperti seseorang yang membawa ember berisi air untuk menyiram tanaman. Jika seluruh air dihabiskan untuk tanaman liar yang tidak perlu, maka tanaman yang paling penting justru akan layu. Begitu juga dengan kehidupan. Energi kita terbatas. Jika dihabiskan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak memberikan nilai besar, kita akan kehabisan tenaga ketika kesempatan terbaik datang. Karena itu, mengelola waktu bukan sekadar belajar menyusun jadwal, tetapi belajar memilih apa yang benar-benar layak mendapatkan perhatian kita.
Sejak saat itu saya mengubah cara bekerja. Saya tidak lagi memulai hari dengan bertanya, “Apa saja yang harus saya kerjakan?” Saya justru bertanya, “Pekerjaan apa yang jika selesai hari ini akan memberikan dampak terbesar?” Pertanyaan sederhana itu membuat saya jauh lebih fokus. Saya mulai berani menunda pekerjaan yang tidak mendesak, mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai, dan memberikan energi terbaik saya untuk pekerjaan yang benar-benar penting.
Saya juga menyadari bahwa istirahat bukanlah musuh dari produktivitas. Sama seperti ponsel yang harus diisi dayanya agar dapat digunakan kembali, manusia pun membutuhkan waktu untuk memulihkan energi. Kita sering merasa bersalah ketika beristirahat, padahal tubuh dan pikiran yang lelah justru membuat kualitas pekerjaan menurun. Sejak saya mulai menjaga pola istirahat, mengatur waktu kerja, dan memberikan ruang untuk diri sendiri, saya justru mampu mengambil keputusan dengan lebih baik dan menikmati proses membangun IYEN tanpa merasa terus-menerus dikejar waktu.
Kini saya percaya bahwa produktivitas bukan tentang bekerja tanpa henti. Produktivitas adalah kemampuan mengarahkan waktu, tenaga, dan perhatian kepada hal-hal yang benar-benar berarti. Kesuksesan bukan dimenangkan oleh orang yang paling sibuk, tetapi oleh mereka yang mampu menjaga energi, fokus, dan konsistensi dalam jangka panjang. Karena mimpi besar bukanlah perlombaan lari seratus meter, melainkan maraton yang membutuhkan strategi, ritme, dan ketahanan untuk terus melangkah.